Sabtu, 24 Juni 2017

Puisi - Waktunya Mudik Pulang Kampung



Remang sinar mentari berbalut kabut di pagi hari
Jernihnya tetes embun masih terlihat di hijaunya daun
Menemani diri ini untuk berpacu dengan waktu
Mengawali sebuah perjalanan panjang yang harus ku tempuh

Mulai terbayang kenangan dan cerita indah
Serta wajah penuh keceriaan orang orang tercinta
Di teduh dan damainya tempat bernaung masa lalu
Menambah hasrat dan harapan untuk segera bertemu

Waktu terasa berjalan begitu cepatnya
Namun tidak dengan langkah perjalananku
Deru asap dan debu semakin terasa menyesakkan nafas
Lelah dan penat pun mulai merasuk raga

Namun semua itu tiada menghalangi semangatku
Untuk tetap terus berpacu
Mengejar waktu untuk segera bertemu
Kampung halaman yang telah lama menunggu

Selasa, 20 Juni 2017

Puisi - Sahabatku, terima kasih untuk pertolonganmu disaat itu





Manakala malam terasa panjang dan seolah tiada bertepi

Saat mata ini enggan untuk terpejam dan terlelap
Dan otak pun mulai merangkai sebuah kisah lama
Tentang sebuah cerita buram seorang pria muda

Disaat malam terasa suram dan tiada berhiaskan bintang
Ketika gundah hati menguasai akal budi
Dan langkahku pun terasa mulai tiada terkendali
Hanya mengikuti rasa hati yang tiada pernah kumengerti

Lalu berpacu di jalanan tanpa tujuan pasti
Dan sebuah tragedi pun tak mungkin dihindari
Tanpa sadar darah pun mengucur tiada henti
Namun semua itu tiada menyurutkan langkah dan niat hati

Terus berjalan walau terhuyung dengan langkah gontai
Tiada peduli rasa perih dan keadaan diri
Mengikuti sebuah rasa hati yang tiada pernah mau mengerti
Walau kutahu hanya goresan pedihnya hati yang akan kutemui

Dan Ketika sadarku mulai kembali
Tiada satu pun cerita yang teringat dibenak ini
Hanya seraut wajah yang masih melekat
Mengusap tetes darah yang masih terasa hangat

Terima kasih sahabatku....
Untuk pertolonganmu disaat itu
Dan Maafkan diriku....
Telah menyusahkanmu diwaktu itu

Minggu, 04 Juni 2017

Puisi Sunset di Gunung Kunir

Sunset di Gunung Kunir


Disaat cahaya mentari berselimut kabut tipis
Dan semilir angin dingin menerpa diri
Kuayunkan langkah setapak demi setapak
Melewati satu persatu anak tangga yang ada

Terjal dan berliku jalan yang harus kulalui
curamnya lembah pun terasa menggetarkan hati
Memicu gejolak adrenalin dalam tubuh ini
Menambah nuansa rasa yang tak akan pernah terlupa

Letih dan lelah tiada menghalangi niat hati
Untuk tetap melangkah menuju puncak nan alami
Menggapai putihnya awan yang begitu menawan
Memandang keindahan semesta karya Tuhan

Kurasakan begitu kecil dan tiada berartinya diri ini
Manakala indahnya sebuah karya terpampang di depan mata
Ketika mentari senja begitu menakjubkan di cakrawala
Membiaskan cahaya jingga mewarnai langit penuh Mega

Sesaat diriku termangu seolah beku
Memandang sunset yang selalu kutunggu
Dan kubersyukur pada-Mu ya Tuhanku
Untuk sunset yang indah dari puncak Gunung Kunir



Puisi Kisah di Sebuah Pantai (Nelayan)

Kisah di Sebuah Pantai (Nelayan)


Disaat Surya mulai menuju peraduan
Dan hari pun mulai berganti malam
Rembulan pun mulai tersipu dibalik awan
Seolah enggan menerangi malam

Debur ombak pun kian jelas terdengar
Seperti nyanyian di heningnya malam
Mengiringi dirimu menuju luasnya samudera
Menebar jaring bersama riuhnya gelombang

Dinginnya angin Malam pun kian terasa
Namun bagimu, semua sudah biasa
Menerjang badai mengejar ikan di lautan
Menyabung nyawa demi masa depan keluarga

Waktu bergulir dan mentari pun mulai bersinar
Orang pun mulai berduyun menuju pantai
Menyambut datangmu dengan penuh harapan
Menepi dan berlabuh dengan bahtera penuh ikan